Tuesday, 3 October 2017

#SIP SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

#SIP PENGERTIAN SISTEM DAN INFORMASI
1.      SISTEM
Sistem adalah suatu jaringan kerja dari produser-produser yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu. (FitzGeralrd, 1981)
Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. (Hartono, 2005)
Menurut Gaol (2008) sistem adalah hubungan satu unit dengan unit-unit lainnya yang saling berhubungan satu sama lainnya dan yang tidak dapat dipisahkan serta menuju suatu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Apabila satu unit macet atau terganggu, unit lainnya pun akan terganggu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut.
Sedangkan menurut Indrajit (dalam Hutahaean, 2014) sistem adalah mengandung arti kumpulan-kumpulan dari komponen-komponen yang dimiliki unsur keterkaitan antara satu dengan lainnya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem merupakan interaksi dari kumpulan elemen-elemen untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.

          2.      INFORMASI
Menurut Davis (dalam Kadir, 2003), informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau keputusan yang akan datang.
Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya. (Hartono, 2005)
Menurut Zulkifli (2005), informasi adalah data yang sudah diolah, dibentuk atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan informasi merupakan data yang telah diolah atau dimanipulasi menjadi sebuah bentuk yang berarti, lebih berguna dan bermanfaat bagi penerimanya dalam keperluan tertentu.
Sutabri (2012) menjelaskan bahwa fungsi dari informasi adalah memberikan suatu dasar kemungkinan untuk menanggapi seleksi kepada pengambilan keputusan.

Menurut Kusrini dan Koniyo (2007), Informasi yang berkualitas memiliki 3 kriteria, yaitu :
Akurat
Informasi harus bebas dari kesalahan, tidak bias ataupun menyesatkan. Akurat juga berarti bahwa informasi itu harus dapat dengan jelas mencerminkan maksudnya.

Tepat pada waktunya
Informasi yang dtang pada penerima tidak boleh terlambat. Di dalam pengambilan keputusan, informasi yang sudah using tidak lagi bernilai. Bila informasi datang terlambat sehingga pengambilan keputusan terlambat dilakukan.

Relevan
Informasi yang disampaikan harus mempunyai keterkaitan dengan masalah yang akan dibahas dengan informasi tersebut. Informasi harus bermanfaat bagi pemakainya.

Menurut Komarudin (dalam Nuraida, 2008) , mengemukakan bahwa informasi sebagai hasil dari pengolahan data mempunyai tujuan :

1.         Informasi deskriptif
2.         Informasi penjelasan
3.         Informasi prediktif
4.         Informasi evaluatif
5.         Informasi inovatif

#SIP PENGERTIAN SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI


SISTEM INFORMASI
Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan. (Leitch, 1983)
Menurut Irene Joos, dkk (2009) sistem informasi adalah suatu sistem yang memiliki tujuan sendiri untuk menghasilkan informasi dengan menggunakan sistem input/proses/output.
Menurut Turban, McLean dan Wetherbe (dalam Taufiq, 2013) sistem informasi merupakan sebuah sistem yang mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan yang spesifik.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sistem informasi merupakan sistem di dalam suatu organisasi yang mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan yang spesifik dengan menggunakan sistem input/proses/output.

Menurut Kadir (2003) dalam suatu sistem informasi terdapat komponen-komponen sebagai berikut:

·        Perangkat keras (hardware): mencakup peranti-peranti fisik seperti komputer dan printer
·      Perangkat lunak (software): sekumpulan instruksi yang memungkinkan perangkat keras untuk dapat memproses data.
·   Prosedur: sekumpulan aturan yang dipakai untuk mewujudkan pemrosesan data pembangkitan keluaran yang dikehendaki.
·    Orang: semua pihak yang bertanggung jawab dalam pengembangan sistem informasi, pemrosesan, dan  penggunaan keluaran sistem informasi.
·       Basis data (database): sekumpulan tabel, hubungan dan lain-lain yang berkaitan dengan penyimpanan data.
·      Jaringan komputer dan komunikasi data: sistem penghubung yang memungkinkan sumber (resources) dipakai secara bersama atau diakses oleh sejumlah pemakai.

PSIKOLOGI
Menurut Gulo (1982) dalam kamus psikologinya, psikologi yaitu ilmu yang mempelajari proses-proses mental dan perilaku makhluk hidup, ataupun proses-proses mental dan perilaku itu sendiri.
Menurut Sukartini & Baihaqi (2007) psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku individu dalam interaksi dengan lingkungannya.
Sedangkan menurut Branca (dalam Basuki, 2008) adalah ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang menyediakan informasi-informasi dan dapat digunakan untuk mengumpulkan dan mengolah data mengenai proses-proses mental dan perilaku individu. 

#SIP ARSITEKTUR KOMPUTER
Menurut Suryadi (1994), arsitektur komputer adalah desain komputer yang meliputi set instruksi, komponen hardware, dan organisasi atau susunan sistemnya.
Menurut Alfatta (2007), arsitektur komputer juga dapat didefinisikan dan dikategorikan sebagai ilmu dan sekaligus seni mengenai cara interkoneksi komponen-komponen perangkat keras untuk dapat menciptakan sebuah komputer yang memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja, dan target biayanya.
Sedangkan menurut Syahrul dan Basalamah (2016), arsitektur komputer adalah hal yang berkenaan dengan struktur dan perilaku berbagai modul-modul fungsional komputer dan bagaimana mereka saling berinteraksi untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan pemrosesan pengguna.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa arsitektur komputer adalah desain komputer yang meliputi set instruksi, komponen hardware, dan organisasi atau susunan sistemnya dan bagaimana mereka saling berinteraksi untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan pemrosesan pengguna.

#SIP STRUKTUR KOGNITIF MANUSIA

Menurut Widyatiningtyas (2002), struktur kognisi manusia atau yang disebut dengan skemata atau skema adalah berupa fakta-fakta konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang ada dalam pikiran.
Menurut Orams (dalam Hidayat,dkk 2007) dengan memodifikasi teori Piaget mengemukakan bahwa proses membangun struktur kognitif dapat terwujud melalui adanya informasi, transformasi, dan penggunaan. Interaksi antara individu dengan lingkungan hidup akan terus berlangsung sejalan dengan adanya pemahaman dan persepsi baru mengenai lingkungan tersebut.
Sedangkan menurut Solso (2007), struktur kognitif merupakan organisasi pengetahuan atau dengan kata lain bahwa struktur kognitif dapat disebut sebagai pengetahuan. Struktur kognisi manusia juga merupakan bagian atau komponen yang terstruktur dalam otak manusia yang memberi pengetahuan berdasarkan sistem, skema, adaptasi, asimilasi dan akomodasi yang membentuk suatu kematangan dan pengalaman otak dalam menjalankan kehidupan sosial bagi seorang manusia.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa struktur kognisi manusia atau yang disebut dengan skemata atau skema merupakan organisasi pengetahuan atau dengan kata lain komponen yang terstruktur dalam otak manusia yang memberi pengetahuan berdasarkan sistem, skema, adaptasi, asimilasi dan akomodasi yang membentuk suatu kematangan dan pengalaman otak dalam menjalankan kehidupan sosial bagi seorang manusia.
Dibawah ini adalah video mengenai kognisi manusia :



#SIP KAITAN ANTARA ARSITEKTUR KOMPUTER DAN STRUKTUR KOGNISI MANUSIA
            Komputer diterima secara luas dan digunakan dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia modern. Selain membantu penelitian terhadap pikiran manusia, komputer juga memberikan dampak filosofis terhadap cara pandang para ilmuan terhadap pikiran. Generasi ilmuwan komputer dalam bidang kognitif modern sedang berupaya menyusun suatu jenis komputer yang terstruktur dan meimiliki kinerja seperti otak manusia. Para ilmuwan tersebut mengaplikasikan pengetahuan mereka tentang jaringan neural di otak dan menyusun komputer yang terdiri dari jaringan neural buatan, jaringan buatan ini disempurnakan dengan lapisan-lapisan neiron elektronik yang saling berhubungan, yang struktur organisasinya menyerupai struktur jaringan otak manusia, dan bahkan memiliki program-program yang mensimulasikan fungsi-fungsi jaringan saraf yang sesungguhnya. (Solso, Maclin & Maclin, 1977)
Proses pengolahan informasi yang terjadi di otak manusia sama halnya dengan penyimpanan atau proses yang dilalui oleh informasi dalam komputer. Seperti yang dikemukakan oleh Kenneth Craik bahwa otak manusia seperti komputer karna mampu menjiplak dan menyamai kegiatan diluar. Kognisi manusia menggunakan istilah HIP atau Human Information Process untuk menjelaskan proses tersebut. (Lindsay & Norman, 1977)
Dengan uraian “Generasi ilmuwan komputer dalam bidang kognitif modern sedang berupaya menyusun suatu jenis komputer yang terstruktur dan meimiliki kinerja seperti otak manusia” arsitektur komputer memberikan berbagai atribut pada system komputer yang dibutuhkan oleh seorang perancang perangkat atau system untuk mengembangkan suatu program. Melalui prinsip-prinsip kognisi, sesorang dapat memproses informasi secara efisien dan terorganisasikan dengan baik. Sistem informasi dengan teknologi yang pesat dan canggih dapat memudahkan sesorang dalam melakukan aktivitas yang dikembangkan berdasarkan prinsip kerja kognisi.

#SIP KELEMAHAN DAN KELEBIHAN DARI ARSITEKTUR KOMPUTER BILA DIBANDINGKAN DENGAN STRUKTUR KOGNISI MANUSIA

A.    Arsitektur Komputer
Kelemahan :
1.    Memerlukan tempat yang besar untuk menyimpan
2.    Harga yang cukup mahal
3.   Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memproses informasi yang masuk
4.    Membutuhkan arus listrik
5.    Tidak dapat membuat kesimpulan, keputusan

Kelebihan :
1.    Informasi yang sudah tersimpan tidak tercampur dengan informasi lain
2.   Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memuncul kembali informasi yang tersimpan
3.   Multi user, dapat digunakan oleh beberapa orang dalam waktu yang bersamaan
4.   Dapat membuka beberapa aplikasi atau informasi dalam waktu yang bersamaan
5.   Dalam pengoperasian matematika lebih cepat

B.     Struktur Kognisi Manusia
Kelemahan :
1.  Proses kognitif cenderung lebih efektif ketika infonya positif (cenderung mengingan informasi yang positif seperi hal yang baik, disukai, berguna)
2.   Proses kognitif cenderung dipengaruhi emosi yg sedang dialami (mengingat, membuat keputusan akan lebih efektif pada saat sedang gembira)
3.   Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memanggil informasi yang telah tersimpan (recall)
4.      Memungkinkan informasi yang tersimpan dapat hilang (lupa)
5.      Dalam pengoperasian matematika, manusia lebih lambat

Kelebihan :
1.      Proses kognitif cenderung lebih aktif
2.  Proses kognitif berlangsung sangat efisien dan akurat (kapasitas ingatan manusia tidak terbatas)
3.      Kapasitas untuk menerima atau menyimpan informasi lebih banyak
4.  Dapat memproses informasi baru dengan lebih cepat dibanding arsitektur komputer
5.      Lebih unggul mengenali wajah

Dibawah ini video mengenai kekuatan pikiran manusia :


            

 Daftar Pustaka
Alfatta, H. (2007). Analisis dan Perancangan Informasi. Yogyakarta: Andi Offset
Andayati, D. (2012). Sistem pakar dalam bidang psikologi. Prosiding seminar nasional aplikasi sains & teknologi (SNAST) periode IIIISSN: 1979-911X. Jurusan teknik informatika, Institut Sains & TeknologiAKPRIND, Yogyakarta.
Basuki, H. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma
FitzGerarld, J., FitzGerald, A., & Stalling, W. D. Jr. (1971). Fundamental of system analysis. New York: John Willey & Sons
Hartono, J. (2005). Sistem informasi: Pendenkatan terstruktur teori dan praktik aplikasi bisnis.Yogyakarta: Andi
Gaol, Chr. J. L. (2008). Sistem informasi manajemen pemahaman dan aplikasi. Jakarta : Penerbit PT Grasindo.
Gulo, D. (1982). Kamus Psychologi. Universitas Michigan: Tonis
Hidayat, D.S, dkk. (2007). ilmu dan aplikasi pendidikan. Grasindo
Hutahaean, J. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish Publisher.
Kadir, A. (2003). Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi
Krismiaji. (2002). Sistem informasi akuntansi. Yogyakarta: Unit Penerbitan dan Percetakan AMP YKPN.
Lindsay, P. H., Norman, D. A. (1977). Human information processing: An introduction to psychology. New York: Academia Press
Taufiq. (2013). Sistem informasi manajemen konsep dasar, analisis dan metode pengembangan. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Robert, A. L. & Davis, K. R. (1983). Accounting information systems. New Jersey: Prentice-Hall
Sutabri, T. (2012). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Andi
Zulkifli, A. (2005). Manajemen sistem informasi. Jakarta: Garamedia Pustaka Utama.
Joos, I. (2003). Pengolahan sistem informasi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Solso, R. L., Maclin, O. H. & Maclin, M. K.. (2007). Psikologi kognitif edisi kedelapan. Erlangga: Jakarta
Sukartini, P. S. &  Baihaqi, M. I. F. (2007). Teori psikologi pendidikan. Dalam ali.m., ibrahim, r., sukmadinata, n.s., sudjana, d., dan rasjidin, w penyunting. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogiana Press.
Suryadi, HS. (1994). Pengantar arsitektur computer (Seri diktat). Jakarta: Gunadarma
Widyatiningtyas, R. (2002). Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologi, dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA. Jurnal pendidikan dan budaya. Vol. 1, No. 2. 
Sumber Gambar : www.google.com
Sumber Video : www.youtube.com




Sunday, 18 June 2017

TUGAS 4 PSIKOTERAPI : REVIEW JURNAL " Randomized Controlled Trial of Family Therapy and Cognitive Behavior Therapy Guided Self-Care for Adolescents With Bulimia Nervosa and Related Disorders"




Judul : A Randomized Controlled Trial of Family Therapy and Cognitive Behavior Therapy Guided Self-Care for Adolescents With Bulimia Nervosa and Related Disorders
Volume : Vol.164, 591–598
Tahun : 2007
Penulis : Ulrike Schmidt, M.D., Ph.D. Mari Jenkins, M.D., Sally Lee, Ph.D., Susie Frost, Jennifer Beecham, Ph.D. Liz Dodge, Sarah Perkins Mark Berelowitz, M.D., Janet Treasure M.D., Ph.D., Ivan Eisler, Ph.D., Irene Yi, M.D., Suzanne Winn, Paul Robinson, M.D., Rebecca Murphy, Saskia Keville, D.Clin.Psy., Eric Johnson-Sabine, M.D.
Reviewer : Annisa Fitria Arum. H

Sekitar 4% -7% betina muda di negara-negara Barat menderita bulimia nervosa penuh atau parsial (1). Biasanya, bulimia berkembang pada masa remaja, dan individu dengan sindrom parsial berisiko mengalami sindrom penuh. Tanpa pengobatan, bulimia nervosa cenderung bertahan sampai dewasa. Kelainan ini terkait dengan gangguan fisik dan mental sekunder dan memberlakukan beban besar pada keluarga (1). Meskipun banyak percobaan terkontrol acak telah dilakukan dengan orang dewasa dengan bulimia nervosa (2), tidak ada yang dilakukan dengan remaja. Pedoman orang-orang Inggris tentang gangguan makan (2) telah mengidentifikasi pengobatan gangguan makan remaja sebagai prioritas peneliti . Pedoman tersebut juga mencatat bahwa sedikit yang diketahui tentang biaya pemanfaatan layanan kesehatan yang terkait dengan kelainan ini. Pengobatan berbasis keluarga menghasilkan hasil yang sangat baik pada remaja dengan anoreksia nervosa (2), dan telah diadaptasi untuk remaja dengan bulimia nervosa (3). Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah pengobatan pilihan untuk orang dewasa dengan bulimia nervosa (2). Format perawatan diri CBT untuk bulimia nervosa dapat seefektif terapi CBT terapis jika dipandu oleh terapis (4). Perawatan diri terpandu direkomendasikan sebagai intervensi lini pertama untuk orang dewasa dengan bulimia nervosa dalam pedoman Inggris (2), dan ini mungkin merupakan intervensi awal yang berguna untuk bulimia pada remaja.
Tujuan dari peneliti ini adalah untuk membandingkan efikasi dan efektivitas biaya terapi keluarga dan perawatan diri CBT yang dibimbing pada remaja dengan bulimia nervosa atau gangguan makan yang tidak ditentukan lain. Hipotesis utama peneliti adalah bahwa pada remaja dengan bulimia nervosa atau gangguan makan tidak ditentukan lain, terapi keluarga akan menghasilkan tingkat pantang yang lebih tinggi dari pesta makan dan muntah, keduanya saat menyelesaikan pengobatan dan saat follow-up. Hipotesis sekunder peneliti adalah perawatan diri yang dipandu lebih murah daripada terapi keluarga.


Metode
Peserta
peneliti ini dilakukan di empat layanan gangguan makan di National Health Service di Inggris, yang merupakan penyedia layanan utama untuk populasi di wilayah masing-masing. Pasien dirujuk oleh dokter umum. Perekrutan berlangsung antara bulan September 2000 dan Mei 2003. Persetujuan tertulis diberikan dari peserta dan "orang terdekat" saat penilaian. Untuk pasien usia 16 dan di bawah, persetujuan dari orang tua dicari. Komite etika peneliti dari pusat-pusat yang berpartisipasi menyetujui peneliti ini. Pasien yang dirujuk secara berurutan diundang untuk berpartisipasi jika berusia 13-20 tahun, memenuhi kriteria DSM-IV untuk bulimia nervosa atau gangguan makan yang tidak disebutkan secara spesifik, dan setidaknya memiliki satu "orang dekat" untuk menyertai mereka dalam "perawatan keluarga". Gangguan makan yang tidak ditentukan lain didefinisikan sebagai pesta makan dan / atau pembersihan (muntah dan penyalahgunaan obat pencahar atau diuretik) kurang dari dua kali seminggu atau kurang dari 3 bulan atau penggunaan perilaku kompensasi yang tidak tepat tanpa dilakukan makan pada pasien dengan berat badan normal.
"Tutup yang lain" Termasuk orang tua, saudara dan rekan lainnya. 
Peneliti mengecualikan pasien dengan indeks massa tubuh di bawah persentil ke 10 untuk usia dan jenis kelamin (5), pasien yang pengetahuannya bahasa Inggris tidak cukup untuk memahami pengobatan, dan pasien dengan ketidakmampuan belajar, penyakit mental berat, atau zat ketergantungan. peneliti tidak mengecualikan pasien yang memakai antidepresan asalkan mereka memiliki dosis stabil minimal 4 minggu.

Intervensi
Terapi Keluarga. Terapi keluarga yang digunakan dalam peneliti ini adalah
diadaptasi dari model terapi keluarga Maudsley untuk anoreksia nervosa (6, 7) dan dirinci dalam manual. Dalam model ini, keluarga dipandang sebagai sumber kunci dalam pemulihan orang muda. Upaya dilakukan untuk melibatkan keluarga anggota dan menunjukkan bahwa mereka berada dalam posisi terbaik untuk membantu remaja. Pengobatan berorientasi masalah, menekankan peran keluarga dalam mempromosikan restorasi makan normal dan memberikan edukasi tentang efek bulimia. Keluarga didorong untuk menemukan cara untuk membantu pasien mengurangi perilaku bulimia. Akhirnya, kontrol atas makan diserahkan kembali kepada pasien, dan diskusi tentang otonomi dan kemerdekaan berlangsung. Pasien ditawari hingga 13 sesi dengan orang lain yang dekat dan dua sesi individual selama periode 6 bulan. CBT Dipandu Self-Care. peneliti menggunakan manual (8) yang sebelumnya diuji dengan orang dewasa dengan bulimia nervosa (4). Tes Tingkat FleschKincaid Grade menunjukkan bahwa manual dapat dibaca oleh siswa kelas delapan (usia 13-14 tahun). Buku kerja yang menyertai tersedia untuk pasien dan orang lain, serta panduan untuk dokter (9). Pasien memiliki 10 sesi mingguan, tiga sesi follow up bulanan, dan dua sesi opsional dengan yang lainnya. Peran terapis adalah memotivasi pasien dan membimbing mereka melalui buku kerja agar sesuai dengan kebutuhan mereka. Awalnya pengobatan berfokus pada fungsi bulimia dalam kehidupan seseorang dan membangun motivasi untuk berubah. Informasi tentang bagaimana gejala bulimia dipertahankan diperkenalkan, menggunakan pemantauan pikiran, perasaan, dan perilaku sendiri.
Pemecahan masalah dengan eksperimen perilaku dan penetapan tujuan digunakan untuk membantu pasien mengubah siklus perilaku yang jahat. Perumusan kasus dikembangkan secara kolaboratif. Setelah 10 sesi terapis menulis surat selamat tinggal. Sesi tindak lanjut berfokus pada pencegahan kambuh. Pekerjaan rumah biasa menyertai perawatan. Sesi dengan alamat dekat lainnya bagaimana yang lain bisa membantu pasien. Terapis Perawatan disampaikan oleh 23 berpengalaman Terapis dari berbagai latar belakang dengan pelatihan terapi keluarga dan perawatan diri terpimpin.
Terapis berpartisipasi dalam pelatihan lokakarya untuk kedua terapi sebelum studi dan diterima pengawasan mingguan. Tujuh terapis hanya melihat satu pasien karena waktunya dari transfer mereka ke dalam atau di luar layanan.
Pengobatan Fidelity. Dalam terapi keluarga, untuk memastikan kompeten dan pemberian perawatan seragam, tiga pengawas berpengalaman yang sebelumnya pernah terlibat dalam pengembangan atau pengujian model terapi keluarga Maudsley untuk anoreksia nervosa digunakan pada layar satu arah untuk menyediakan pengawasan "live" reguler.
Diperawatan diri terpimpin, terapis menerima pengawasan mingguan oleh supervisor dilatih dalam wawancara motivasi dan CBT untuk bulimia nervosa sesi keluarga direkam, dipandu sesi perawatan mandiri direkam untuk memungkinkan analisis proses terapeutik (untuk dilaporkan secara terpisah).

Penilaian
Wawancara klinis awal menentukan kelayakan pasien untuk peneliti ini. Mereka yang setuju untuk berpartisipasi dinilai oleh asisten peneliti yang tetap buta terhadap tugas pengobatan selama peneliti berlangsung. Penilaian dilakukan pada usia 6 dan 12 bulan untuk pasien dan pasien lainnya. Penilaian Pasien. Indeks massa tubuh (BMI; kg / m 2) diukur. Riwayat gangguan makan seumur hidup diperoleh dengan wawancara EATATE (manuskrip MB Anderluh et al. 2000 yang tidak diterbitkan 2000), riwayat gangguan berat dan gangguan makan berdasarkan Analisis Longitudinal Interval Follow-Up Evaluation (10) yang mencakup variabel dari Eating Disorder Examination (11). Meskipun validasi penuh instrumen ini belum dipublikasikan, analisis pendahuluan menunjukkan reliabilitas interrater yang sangat baik, dengan nilai kappa antara 0,88 dan 1,0 untuk diagnosis gangguan makan pertama dan kedua dan 0,82 untuk jumlah diagnosis seumur hidup. Koefisien Spearman untuk penilaian longitudinal terhadap gejala tinggi: kebiasaan makan yang obyektif, 0,84; Muntah, 0,97; Penyalahgunaan pencahar atau diuretik, 0,89; Dan diet ketat, 0,85. peneliti menggunakan wawancara ini pada awal untuk membuat diagnosis DSM-IV dan pada awal, 6 bulan, dan 12 bulan untuk menilai gejala gangguan makan selama bulan sebelumnya. peneliti juga menggunakannya pada beberapa titik waktu untuk menilai waktu pemulihan (pada awal dan pada 2, 4, 6, 8, dan 10 bulan). Peneliti juga menggunakan Evaluasi Singkat Gangguan Makan (12), sebuah laporan self-report singkat, valid, dan dapat diandalkan yang mengukur gejala gangguan makan selama 4 minggu sebelumnya. peneliti memasukkan ukuran ini untuk mendapatkan informasi melalui surat atau telepon mengenai hasilnya pasien yang gagal mengikuti tindak lanjut penilaian.
Untuk menilai komorbiditas kejiwaan pada awal, peneliti menggunakan versi adaptasi dari Oxford, England, Risk Factor Wawancara (13) dan EATATE. Instrumen lain digunakan untuk menilai faktor lain, seperti psikopatologi umum dan hubungan keluarga, serta hasil orang tua, termasuk kesehatan mental dan beban kepedulian, itu akan dilaporkan secara terpisah.
Penilaian Ekonomi Kesehatan. Komponen ekonomi menggunakan metode pengumpulan data, estimasi biaya, dan analisis yang mapan (14, 15). Inventaris Tanda Terima Layanan Klien (14, 15) mendokumentasikan penggunaan layanan pendidikan, kesehatan, dan layanan kesehatan remaja, serta biaya tambahan untuk mereka atau keluarga mereka yang merupakan konsekuensi bulimia nervosa. Biaya unit untuk setiap layanan diambil dari data yang dapat diterapkan secara nasional (16) atau diperkirakan menggunakan metodologi yang setara. Biaya per kasus dihitung sebagai biaya satuan dikalikan dengan penggunaan yang dilakukan
selama 3 bulan sebelum penilaian masing-masing.

Hasil
Aliran
Pasien
Peserta mengalir melalui peneliti . Khususnya, 15 dari 54 pasien yang memenuhi syarat (27,8%) memilih untuk tidak berpartisipasi karena mereka tidak ingin keluarga mereka terlibat.
Empat puluh satu pasien diacak untuk terapi keluarga dan 44 untuk perawatan diri terpimpin. Serapan pengobatan sebanding pada kedua kelompok.
Peneliti mendefinisikan kehadiran pada empat atau lebih sesi terapi sebagai dosis "pengobatan" minimum yang memadai karena literatur CBT tentang orang dewasa dengan bulimia nervosa menunjukkan bahwa sebagian besar perubahan terjadi dalam empat sesi pertama. Meskipun durasi pengobatan 16 sampai 20 sesi dianjurkan untuk orang dewasa dengan bulimia nervosa, tidak ada yang diketahui tentang masa pengobatan yang sesuai untuk remaja. Proporsi pasien yang menghadiri empat atau lebih sesi serupa pada kedua kelompok perlakuan. Jumlah median sesi yang diikuti dalam perawatan diri terpimpin adalah delapan (kisaran = 0 sampai 15), dan pada kelompok terapi keluarga, tujuh (kisaran = 0 sampai 17). dalam kedua perawatan tersebut, sesi berlangsung sekitar 1 jam.

Karakteristik Pasien pada Baseline
Pasien dalam dua kelompok perlakuan serupa pada karakteristik sosiodemografi dan klinis awal (Tabel 1). Hanya sebagian kecil pasien yang menggunakan obat pencahar (N = 11, 12,9%), diuretik (N = 4, 4,7%), atau obat lain untuk pengendalian berat badan (N = 9, 10,6%).

Hasil Primer
Proporsi pasien di setiap kelompok yang dinilai berpantang, subklinis, atau klinis dalam pesta makan atau muntah pada awal, pada 6 bulan (akhir pengobatan), dan pada 12 bulan (follow-up). Dalam regresi logistik untuk variabel ordinal, asumsi probabilitas proporsional dibenarkan untuk makan dan muntah pada usia 6 dan 12 bulan. Regresi logistik menunjukkan bahwa proporsi pasien yang jauh lebih tinggi dalam kelompok perawatan mandiri yang dipandu dibandingkan kelompok keluarga terapi berpuasa pada 6 bulan (p untuk kemungkinan. Namun, tidak ada perbedaan antara kedua perlakuan dalam kebiasaan makan 12 bulan dan muntah pada usia 6 dan 12 bulan. Selain itu, ketika kategori hasil yang sama diperiksa untuk mengatasi kebiasaan makan dan pembersihan, tidak ada perbedaan antar kelompok. Hasil ini tidak berubah setelah disesuaikan dengan penggunaan antidepresan pada awal.

Kesimpulan
Terapi keluarga dipandang sebagai sumber kunci dalam pemulihan orang muda. Upaya dilakukan untuk melibatkan keluarga anggota dan menunjukkan bahwa mereka berada dalam posisi terbaik untuk membantu remaja. Pengobatan berorientasi masalah, menekankan peran keluarga dalam mempromosikan restorasi makan normal dan memberikan edukasi tentang efek bulimia. Keluarga didorong untuk menemukan cara untuk membantu pasien mengurangi perilaku bulimia.
Peneliti mendefinisikan kehadiran pada empat atau lebih sesi terapi sebagai dosis "pengobatan" minimum yang memadai karena literatur CBT tentang orang dewasa dengan bulimia nervosa menunjukkan bahwa sebagian besar perubahan terjadi dalam empat sesi pertama. Meskipun durasi pengobatan 16 sampai 20 sesi dianjurkan untuk orang dewasa dengan bulimia nervosa, tidak ada yang diketahui tentang masa pengobatan yang sesuai untuk remaja. Proporsi pasien yang menghadiri empat atau lebih sesi serupa pada kedua kelompok perlakuan. Jumlah median sesi yang diikuti dalam perawatan diri terpimpin adalah delapan (kisaran = 0 sampai 15), dan pada kelompok terapi keluarga, tujuh (kisaran = 0 sampai 17). dalam kedua perawatan tersebut, sesi berlangsung sekitar 1 jam.
Regresi logistik menunjukkan bahwa proporsi pasien yang jauh lebih tinggi dalam kelompok perawatan mandiri yang dipandu dibandingkan kelompok keluarga terapi berpuasa pada 6 bulan (p untuk kemungkinan. Namun, tidak ada perbedaan antara kedua perlakuan dalam kebiasaan makan 12 bulan dan muntah pada usia 6 dan 12 bulan. Selain itu, ketika kategori hasil yang sama diperiksa untuk mengatasi kebiasaan makan dan pembersihan, tidak ada perbedaan antar kelompok. Hasil ini tidak berubah setelah disesuaikan dengan penggunaan antidepresan pada awal.

Monday, 15 May 2017

TUGAS 3 PSIKOTERAPI : REVIEW JURNAL "Cognitive Behavioral Therapy for Schizophrenia : An Empirical Review"


Judul : Cognitive Behavioral Therapy for Schizophrenia : An Empirical Review
Volume & Halaman : Vol.200 (10), 278-287
Tahun : 2012
Penulis : Neil A. Rector, PhD dan T. Beck, MD

Abstrak
Studi kasus awal dan studi persalinan yang tidak terkontrol yang berfokus pada pengobatan delusi dan halusinasi telah meletakkan dasar bagi perkembangan terkini dalam intervensi terapi perilaku kognitif komprehensif (komprehensif) untuk skizofrenia. Tujuh penelitian uji coba terkontrol secara acak yang menguji keefektifan CBT untuk skizofrenia diidentifikasi melalui penelusuran elektronik (MEDLINE dan PsychInfo) dan melalui korespondensi pribadi. Setelah meninjau studi ini, perkiraan ukuran efek (ES) dihitung untuk menentukan besarnya statistik perubahan klinis pada CBT dan kondisi perlakuan kontrol. CBT telah terbukti menghasilkan efek klinis yang besar pada ukuran gejala skizofrenia positif dan negatif. Pasien yang mendapat perawatan rutin dan CBT tambahan telah mengalami manfaat tambahan di atas dan di luar keuntungan yang dicapai dengan perawatan rutin dan terapi suportif tambahan. Hasil ini mengungkapkan janji untuk peran CBT dalam pengobatan skizofrenia meskipun penelitian tambahan diperlukan untuk menguji keefektifannya, ketahanan jangka panjangnya, dan dampak pada tingkat kekambuhan dan kualitas hidup. Penyempurnaan klinis diperlukan juga untuk membantu mereka yang hanya menunjukkan sedikit manfaat dengan intervensi tersebut.

Hasil yang penting dari pengenalan antipsikotik atipikal dalam pengobatan skizofrenia telah sejajar menjanjikan temuan penelitian untuk terapi perilaku kognitif (CBT) dalam pengobatan pasien dengan gejala persisten. Meskipun CBT telah menjadi pendekatan psikoterapeutik yang dipraktekkan secara luas dan didukung secara empiris (misalnya, Chambless dan Gillis, 1993; Dobson, 1989), hanya dalam dekade terakhir penggunaannya telah dianjurkan dalam pengobatan skizofrenia. CBT untuk skizofrenia mengacu pada prinsip dan strategi intervensi yang sebelumnya dikembangkan di CBT untuk kecemasan (Beck et al., 1985) dan depresi (Beck et al., 1979) namun disesuaikan untuk mengobati gejala skizofrenia spesifik dalam tekanan diatesis, Kerangka bio-psiko-sosial (Zubin dan Spring, 1977). Tinjauan empiris intervensi psikososial lainnya untuk skizofrenia, seperti pelatihan keterampilan sosial, terapi pribadi, terapi keluarga, dan terapi suportif, telah diberikan (Huxley et al., 2000; Penn dan Mueser, 1996). Ada juga beberapa tinjauan terakhir tentang penelitian empiris awal tentang CBT untuk skizofrenia (Dickerson, 2000; Garety et al., 2000; Jones et al., 2000; Norman and Townsend, 1999). Sejak publikasi mereka, sejumlah studi terkontrol multisite telah selesai yang menyoroti kemampuan CBT targetkan gejala domain selain halusinasi dan delusi. Selanjutnya, kami memberikan analisis kuantitatif dari literatur yang ada untuk menentukan besarnya dan pola perubahan gejala antara CBT dan psikoterapi yang mendukung. Akhirnya, kami menyarankan beberapa pertanyaan untuk penelitian masa depan di bidang ini.

PHARMACOTHERAPY AS A FRONT-LINE TREATMENT
Tinjauan terakhir menunjukkan manfaat pengobatan atipikal anti psikotik atipikal (Stahl, 1999; Stephenson dan Pilowski, 1999). Meskipun farmakoterapi sebagian besar efektif dalam mengobati psikosis akut dan dalam mencegah frekuensi kambuh, proporsi pasien yang signifikan terus mengalami sesekali, halusinasi dan delusi, gejala negatif, gangguan kognitif, Dan cacat kronis akibat gangguan fungsi sosial dan pekerjaan. Penelitian sebelumnya dengan neuroleptik yang lebih konvensional telah menunjukkan bahwa antara 25 dan 60% pasien mungkin terus mengalami gejala florid bahkan ketika berpegang pada pengobatan (Curson et al., 1985; Harrow et al., 1985). Ada variabilitas yang signifikan dalam respon klinis dengan neuroleptik atipikal. Ke atas 25% pasien biasanya dipelihara pada beberapa antipsikotik atipikal (Stahl, 1999).
Ketidakpatuhan obat terus menghadirkan masalah khusus. Diperkirakan bahwa 75% pasien rawat inap di episode pertama (Kissling, 1992) dan pasien rawat jalan yang stabil (Corrigan et al., 1990) dirawat di masyarakat dengan neuroleptik standar akan tidak patuh Studi selektif dengan neuroleptik atipikal menunjukkan tingkat penghentian yang sama (Ratakonda et al., 1997). Ketidakpatuhan mungkin karena kurangnya kesadaran akan penyakit (Kent dan Yellowlees, 1994), berkaitan dengan stigmatisasi dan ketakutan akan ketergantungan (Corrigan et al., 1990), ketidakpuasan dengan efek samping, dan/atau persepsi pasien bahwa dia '' disembuhkan. '' Jadi, masih perlu pengembangan perawatan yang menargetkan gejala persisten, aspek sekunder dari gangguan ini, seperti depresi dan kecemasan, dan itu tidak mengarah pada Efek sekunder yang merusak.

COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY FOR SCHIZOPHRENIA
Teknik kognitif dan perilaku khusus untuk pengobatan delusi (Beck, 1952; Chadwick dan Lowe, 1994; Hole et al., 1979; Watts et al., 1973) dan halusinasi (Haddock et al., 1998; Slade and Bentall, 1988 ; Wykes et al., 1999) telah dilaporkan selama beberapa dekade. Janji yang ditunjukkan dengan strategi pengobatan perintis menyebabkan terciptanya intervensi CBT yang komprehensif yang dirancang untuk mengobati gejala yang lebih luas dalam model kerentanan stres dari gangguan tersebut (Chadwick et al., 1996; Fowler et al., 1995; Kingdon and Turkington , 1994; Tarrier, 1992). 3 Intervensi ini berbeda sampai batas tertentu dalam target pengobatan mereka. Misalnya, sementara Kingdon dan Turkington (1994) menekankan pentingnya 'menormalkan' gejala, Tarrier (1992) memberi perhatian lebih besar untuk memperluas repertoar pasien strategi penanggulangannya.
Chadwick dan rekannya (1996) memusatkan perhatian pada strategi kognitif untuk mendapatkan dan menilai keyakinan evaluatif mandiri dan diri sendiri yang terkait dengan gejala positif, sementara Fowler dan rekan (1995) menguraikan intervensi menyeluruh enam modul pengobatan yang menggabungkan banyak fitur yang Dalam manual lainnya. Terlepas dari perbedaan penting ini (lihat Dickerson, 2000 untuk review), mereka tumpang tindih dalam konseptualisasi kognitif mereka terhadap gangguan psikotik, dan dalam tujuan dan tugas terapi mereka yang ditentukan. Tujuan bersama CBT meliputi: a) pembentukan aliansi terapeutik yang kuat, yang ditandai dengan penerimaan, dukungan, dan kolaborasi; B) psychoeducation tentang sifat psikosis dalam model bio-psiko-sosial dengan tujuan mengurangi stigma dan menormalisasi pengalaman ini; C) mengurangi kesulitan yang terkait dengan gangguan tersebut; D) intervensi kognitif dan perilaku untuk mengurangi terjadinya dan kesusahan yang terkait dengan delusi dan halusinasi; E) menargetkan keadaan afektif komorbid, seperti kecemasan dan depresi; Dan f) mengurangi kekambuhan.

Intervensi terapi untuk pasien dengan gangguan spektrum skizofrenia dipilih untuk diperiksa. Pencarian ini menemukan tujuh penelitian eksperimental terkontrol tentang pengobatan CBT, enam di antaranya diterbitkan dalam jurnal peer-review dan satu tidak dipublikasikan.




CBT PLUS ROUTINE CARE VS. ROUTINE CARE ONLY
Sebuah studi pendahuluan alokasi acak nonrandom yang dikendalikan oleh Garety dan rekan (1994) menunjukkan manfaat potensial dari CBT berbasis manual untuk skizofrenia kronis jangka panjang. Kompensasi untuk keterbatasan yang terkait dengan studi percontohan yang tidak terdetilasi sebelumnya, Kuipers and colleagues (1997) kemudian melakukan uji coba terkontrol acak multisite, membandingkan pasien yang menerima CBT plus perawatan rutin (CBT-RC; N = 28) kepada pasien yang hanya menerima perawatan rutin ( RC-only; N = 32). Perawatan rutin terdiri dari farmakoterapi dan penanganan kasus aktif. Dalam penilaian hasil klinis pada 9 bulan, kelompok CBT-RC menunjukkan penurunan yang lebih besar dalam keseluruhan psikopatologi dibandingkan dengan kelompok perlakuan RC-only. Pasien yang menerima CBT-RC menunjukkan keuntungan lanjutan dalam pengukuran simtomatologi keseluruhan pada follow up 9 bulan (Kuipers et al., 1998).
Dengan cara ini, ada kemungkinan bahwa perbaikan disebabkan oleh efek pengobatan daripada intervensi CBT. Dalam studi ini, CBT terdiri dari 20 sesi individu selama 6 bulan dan perawatan rutin termasuk farmakoterapi, penanganan kasus aktif, dan akses ke layanan sehari dalam konteks pengobatan multidisiplin khususPasien yang menerima
CBT-RC menunjukkan hasil yang lebih baik daripada mereka yang menerima RC-hanya pada pengukuran berbasis wawancara terhadap simtomatologi skizofrenia secara keseluruhan. Pada follow up 6 bulan, pasien di kedua kelompok perlakuan terus mempertahankan pencapaian mereka selama intervensi aktif walaupun pasien yang menerima CBT-RC menunjukkan pengurangan gejala negatif secara signifikan lebih besar dibandingkan dengan yang di RC saja.


CBT PLUS ROUTINE CARE VS. ALTERNATIVE/SUPPORTIVE PSYCHOTHERAPY PLUS ROUTINE CARE
Tarrier dan rekan (1993a) melakukan penelitian uji coba terkontrol secara acak yang membandingkan CBT-RC (yang oleh Tarrier dan rekannya disebut strategi peningkatan WcopingW; N = 12), terapi pemecahan masalah ditambah perawatan rutin (PS-RC; N = 12), dan sebuah Kondisi wait-list (yaitu RC-only; N = 14) dalam pengurangan delusi dan halusinasi persisten (durasi 6 bulan). RC-hanya terdiri dari farmakoterapi dan manajemen kasus aktif. Pasien yang menerima CBT-RC memiliki hasil klinis yang lebih baik pada ukuran gejala positif dan kesusahan yang terkait dibandingkan pasien dalam dua kondisi perbandingan.
Pasien yang diobati dengan CBT-RC lebih mungkin untuk merespons dengan sukses (seperti yang didefinisikan oleh pengurangan 50% gejala positif) terhadap pengobatan dibandingkan dengan pasien di SC-RC atau RC saja. Meskipun tidak ada pasien yang menerima CBT-RC atau SC-RC yang kambuh dalam penelitian ini, empat pasien dalam kondisi RC-only kambuh, dengan jumlah keseluruhan 204 hari rawat inap. Pada follow-up 12 bulan (Tarrier et al., 1999), keuntungan signifikan tetap ada pada pasien yang menerima CBT-RC. Pasien ini terus memiliki gejala positif yang jauh lebih sedikit daripada pasien yang menerima SC-RC atau RC saja.
Pinto dan rekan (1999) melaporkan penelitian terkontrol secara acak yang membandingkan 6 bulan CBT-RC (N = 19) dibandingkan terapi suportif dan perawatan rutin (ST-RC; N = 18) pada pasien rawat inap dan rawat jalan DSM-IV yang mengalami gejala persisten. Dalam penelitian ini, semua pasien dikatakan telah '' gagal '' untuk menanggapi setidaknya dua intervensi neuroleptik sebelumnya dan dimulai pada dosis klinis clozapine yang memadai.
Pasien yang menerima CBT-RC menunjukkan penurunan yang lebih besar pada ukuran gejala skizofrenia secara keseluruhan dan gejala positif dibandingkan pasien rawat jalan yang menerima ST-RC, sedangkan tidak ada perbedaan kelompok yang dicatat pada pengukuran Gejala negatif Efek menguntungkan dari CBT-RC bukan karena perbedaan penggunaan obat; Penggunaan kloza-pinus sehari-hari setara di antara kelompok selama fase pengobatan yang aktif. Pada follow-up 6 bulan (Pinto, 1999), pasien yang menerima CBT-RC terus memiliki hasil yang lebih baik secara signifikan pada gejala total dan gejala positif. Signifikan perbedaan juga diamati pada penilaian gejala negatif dibandingkan dengan pasien yang menerima ST-RC.

COMBINED CBT AND ROUTINE CARE IN ACUTE SCHIZOPHRENIA
Pada pemeriksaan pertama kemanjuran CBT ditambah perawatan rutin pada fase akut skizofrenia, Drury dan rekan (1996a) melakukan penelitian terkontrol secara acak terhadap kombinasi individu dan kelompok CBT-RC 12 minggu yang dikombinasikan dibandingkan dengan terapi dukungan informal. Intervensi plus perawatan rutin (IST-RC). Bagi pasien dalam penelitian yang kambuh maksimal sekali, pengamat menilai halusinasi dan delusi secara signifikan lebih rendah pada CBT-RC daripada di IST-RC.

CONCLUSIONS
Kekuatan penelitian yang diulas mencakup dimasukkannya pasien dengan diagnosis yang andal, penggunaan ukuran hasil yang dapat diandalkan dan valid (untuk sebagian besar penelitian), penyampaian perawatan berbasis manual standar, pemantauan ketat penggunaan obat-obatan di masa yang lebih baru. Studi, dan pekerjaan yang valid kondisi perawatan kontrol (untuk sebagian besar penelitian). Namun, ada juga kekurangan metodologis penting yang memenuhi syarat dampak positif yang dilaporkan, termasuk tidak adanya pengambilan sampel yang representatif (Drury et al., 1996a, 1996b), tidak adanya penilaian buta (Kuipers et al., 1997; Pinto et al., 1999), tidak adanya gejala gejala multidimensional yang reliabel dan valid (Drury et al., 1996a, 1996b; Tarrier et al., 1993a), kegagalan untuk kontrol untuk kemungkinan perbedaan antara kelompok dalam penggunaan obat-obatan (Kuipers et al., 1997; Tarrier et al., 1993a), dan kegagalan untuk memastikan kepatuhan dan kompetensi terapi terapis CBT (Drury et al., 1996a, 1996b; Kuipers et al., 1997).
Hanya Senksy dan rekannya (2000) telah melaporkan perubahan pretest-posttest dan pretest-follow-up pada skor keparahan depresi dalam penelitian terkontrol secara acak dan dampaknya pada CBT ditemukan pada posttreatment dan tindak lanjut yang besar, menunjukkan janji. Terkait dengan itu, potensi CBT untuk mengurangi tingkat kambuhan saat melahirkan bersamaan dengan perawatan rutin yang memadai tetap merupakan pertanyaan penting untuk penelitian di masa depan mengingat tingginya tingkat kambuh dan kekambuhan pada populasi ini.

Dalam CBT mengubah perilaku maladaptive ke cara lebih adaptive, dengan proses terapi berupa treatment dirumuskan spesifik, hasil terapi harus bisa dievaluasi dengan sifat mekanis manupulatif.
Pasien yang diberikan CBT plus routine care menunjukkan hasil yang lebih baik daripada mereka yang hanya menerima RC, pasien yang menerima CBT-RC menunjukkan pengurangan gejala negatif secara signifikan lebih besar dibandingkan dengan yang di RC saja.
Pasien yang menerima CBT-RC menunjukkan penurunan yang lebih besar pada ukuran gejala skizofrenia secara keseluruhan dan gejala positif dibandingkan pasien rawat jalan yang menerima ST-RCpasien yang menerima CBT-RC terus memiliki hasil yang lebih baik secara signifikan pada gejala total dan gejala positif. Serta halusinasi dan delusi secara signifikan lebih rendah pada CBT-RC daripada di IST-RC.